Sabtu, 19 Juli 2014

NASKAH CERITA ISLAMI NABI IBRAHIM AS

Dewan Juri yang terhormat, serta teman-temanku yang berbahagia.
Pada kesempatan kali ini, izinkanlah saya menyampaikan sebuah kisah yang berjudul : 



Nabi Ibrahim, berhala dan Raja Namrud
Nabi Ibrahim as adalah putra dari Azar, seorang tukang pembuat patung-patung yang menjadi sesembahan mereka. Nabi Ibrahim dilahirkan di tengah masyarakat yang penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran, tetapi Nabi Ibrahim terpelihara dari perbuatan kufur itu, bahkan Nabi Ibrahim menentangnya.
Sewaktu Ibrahim beranjak besar, Nabi Ibrahim memberitahukan bertanya kepada orang tuanya : “Wahai ibu bapakku, Siapakah yang menjadikan diri saya?” Orang tuanya pun menjawab : “Kamilah yang menjadikanmu, karena engkau lahir ke dunia sebab kami”. Lalu Nabi Ibrahim bertanya lagi : “Siapa pula yang menjadikan Ibu dan Bapak?”, Orang tuanya pun menjawab : “Nenek dan kakekmu?”, Semakin ingin tahu, Nabi Ibrahimpun bertanya “Lalu siapakah yang menjadikan orang yang pertama yang ada di bumi ini?”, Karena tak tahu, orang tuanya tak dapat menjawabnya. Nabi Ibrahimpun terus mencari tahu, siapakah sebenarnya yang menjadikan alam semesta ini, tetapi tak ada seorangpun yang dapat menjawabnya, sehingga Nabi Ibrahim terus memikirkannya.
Ketika hari telah malam, Nabi Ibrahim melihat bintang, Ia pun bertanya “Inikah tuhanku ??, tetapi ketika Bintang Terbenam, Ia pun berkata “Aku tidak akan bertuhan kepada sesuatu yang terbenam”.
Setelah itu, Ibrahim melihat bulan purnama yang memancarkan cahaya gilang-gemilang. Ia pun bertanya “Inikah tuhanku??, tetapi ketika bulan itu lenyap, lenyap pula anggapannya untuk bertuhan kepada bulan.
Ketika siang hari, Nabi Ibrahim melihat Matahari yang besar dan cahayanya sangat terang, Ia pun berkata “O….. inilah tuhanku yang sebenarnya, inilah yang paling besar”. Tatapi setelah matahari kembali terbenam, Ia pun berkata “Hai kaumku, aku tak akan bertuhan kepada bintang, bulan, maupun matahari, aku hanya akan bertuhan kepada Dzat yang menciptakan langit, bumi, seisinya dan aku tidak Akan mempersekutukannya”
Setelah Nabi Ibrahim diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul, beliau berdakwah menyiarkan agama tauhid. Nabi Ibrahim berani menentang kepercayaan Raja Namrud dan kaumnya. Suatu ketika Nabi Ibrahim mendatangi tempat pemujaan yang disebut rumah berhala. Nabi Ibrahim merusak berhala – berhala itu, tetapi berhala yang paling besar tidak dirusaknya, bahkan di kalungkan kampak. Setelah Raja Namrud mengetahui peristiwa pengrusakan rumah berhala, Raja Namrud menyrud pasukannya untuk menangkap Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun didakwa sebagai pelakunya, tetapi dengan pintarnya Nabi Ibrahim berkata bahwa berhala besarlah yang telah merusak  berhala-berhala kecil, buktinya berhala besar terlihat memegang kampak. Raja Namrud pun menjadi merah padam, dia sangat marah mendengar perkataan Nabi Ibrahim, dengan geramnya Raja Namrud berkata: “Tidak mungkin berhala besar yang telah merusaknya, karena berhala tidak dapat bergerak dan berbuat sesuatu”. Kemudian dengan tersenyum simpul Nabi Ibrahim berkata : “Heee… Raja Namrud, jika kau tahu berhala tidak dapat berbuat sesuatu, mengapa engkau menyembahnya????”. Raja Namrud pun merasa malu dengan perkataan Nabi Ibrahim, Ia pun murka dan menyuruh pasukannya untuk membakar Nabi Ibrahim. Terjadilah upacara pembakaran Nabi Ibrahim yang disaksikan oleh Raja Namrud dan kaumnya.  Apa yang terjadi kemudian ??? Apakah Nabi Ibrahim Mati Kepanasan ???
Tatkala Nabi Ibrahim dimasukan ke dalam api yang berkobar-kobar, Allah berfrman “,
Hai api, jadilah dingin dan menjadi kesalamatan atas Ibrahim”.
Api berkobar-kobar yang secara akal sehat akan membakar tubuh Nabi Ibrahim, atas kekuasaan Allah, api itu terasa dingin, dan Nabi Ibrahim pun masih hidup tak tergores sedikitpun oleh kobaran api.
Sejak peristiwa itu, banyak orang yang percaya atas kerasulan Nabi Ibrahim AS. Mereka beriman dan menyembah Allah SWT, dan meninggalkan kebiasaan lama yaitu menyembah berhala.  
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga keimanan kita selalu terjaga oleh Allah SWT. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin. Mohon maaf atas segala kekurangannya, terima kasih atas segala kekurangannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





1 komentar: