Dewan Juri yang terhormat, serta
teman-temanku yang berbahagia.
Pada kesempatan kali ini, izinkanlah saya
menyampaikan sebuah kisah yang berjudul :
Nabi Ibrahim, berhala dan Raja Namrud
Nabi
Ibrahim as adalah putra dari Azar, seorang tukang pembuat patung-patung yang
menjadi sesembahan mereka. Nabi Ibrahim dilahirkan di tengah masyarakat yang
penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran, tetapi Nabi Ibrahim terpelihara dari
perbuatan kufur itu, bahkan Nabi Ibrahim menentangnya.
Sewaktu
Ibrahim beranjak besar, Nabi Ibrahim memberitahukan bertanya kepada orang
tuanya : “Wahai ibu bapakku, Siapakah yang menjadikan diri saya?” Orang tuanya
pun menjawab : “Kamilah yang menjadikanmu, karena engkau lahir ke dunia sebab
kami”. Lalu Nabi Ibrahim bertanya lagi : “Siapa pula yang menjadikan Ibu dan
Bapak?”, Orang tuanya pun menjawab : “Nenek dan kakekmu?”, Semakin ingin tahu,
Nabi Ibrahimpun bertanya “Lalu siapakah yang menjadikan orang yang pertama yang
ada di bumi ini?”, Karena tak tahu, orang tuanya tak dapat menjawabnya. Nabi
Ibrahimpun terus mencari tahu, siapakah sebenarnya yang menjadikan alam semesta
ini, tetapi tak ada seorangpun yang dapat menjawabnya, sehingga Nabi Ibrahim
terus memikirkannya.
Ketika
hari telah malam, Nabi Ibrahim melihat bintang, Ia pun bertanya “Inikah tuhanku
??, tetapi ketika Bintang Terbenam, Ia pun berkata “Aku tidak akan bertuhan
kepada sesuatu yang terbenam”.
Setelah
itu, Ibrahim melihat bulan purnama yang memancarkan cahaya gilang-gemilang. Ia
pun bertanya “Inikah tuhanku??, tetapi ketika bulan itu lenyap, lenyap pula
anggapannya untuk bertuhan kepada bulan.
Ketika
siang hari, Nabi Ibrahim melihat Matahari yang besar dan cahayanya sangat
terang, Ia pun berkata “O….. inilah tuhanku yang sebenarnya, inilah yang paling
besar”. Tatapi setelah matahari kembali terbenam, Ia pun berkata “Hai kaumku,
aku tak akan bertuhan kepada bintang, bulan, maupun matahari, aku hanya akan
bertuhan kepada Dzat yang menciptakan langit, bumi, seisinya dan aku tidak Akan
mempersekutukannya”
Setelah
Nabi Ibrahim diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul, beliau berdakwah
menyiarkan agama tauhid. Nabi Ibrahim berani menentang kepercayaan Raja Namrud
dan kaumnya. Suatu ketika Nabi Ibrahim mendatangi tempat pemujaan yang disebut
rumah berhala. Nabi Ibrahim merusak berhala – berhala itu, tetapi berhala yang
paling besar tidak dirusaknya, bahkan di kalungkan kampak. Setelah Raja Namrud
mengetahui peristiwa pengrusakan rumah berhala, Raja Namrud menyrud pasukannya
untuk menangkap Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun didakwa sebagai pelakunya,
tetapi dengan pintarnya Nabi Ibrahim berkata bahwa berhala besarlah yang telah
merusak berhala-berhala kecil, buktinya
berhala besar terlihat memegang kampak. Raja Namrud pun menjadi merah padam, dia
sangat marah mendengar perkataan Nabi Ibrahim, dengan geramnya Raja Namrud
berkata: “Tidak mungkin berhala besar yang telah merusaknya, karena berhala
tidak dapat bergerak dan berbuat sesuatu”. Kemudian dengan tersenyum simpul
Nabi Ibrahim berkata : “Heee… Raja Namrud, jika kau tahu berhala tidak dapat
berbuat sesuatu, mengapa engkau menyembahnya????”. Raja Namrud pun merasa malu
dengan perkataan Nabi Ibrahim, Ia pun murka dan menyuruh pasukannya untuk
membakar Nabi Ibrahim. Terjadilah upacara pembakaran Nabi Ibrahim yang
disaksikan oleh Raja Namrud dan kaumnya.
Apa yang terjadi kemudian ??? Apakah Nabi Ibrahim Mati Kepanasan ???
Tatkala
Nabi Ibrahim dimasukan ke dalam api yang berkobar-kobar, Allah berfrman “,
Hai
api, jadilah dingin dan menjadi kesalamatan atas Ibrahim”.
Api
berkobar-kobar yang secara akal sehat akan membakar tubuh Nabi Ibrahim, atas
kekuasaan Allah, api itu terasa dingin, dan Nabi Ibrahim pun masih hidup tak
tergores sedikitpun oleh kobaran api.
Sejak
peristiwa itu, banyak orang yang percaya atas kerasulan Nabi Ibrahim AS. Mereka
beriman dan menyembah Allah SWT, dan meninggalkan kebiasaan lama yaitu
menyembah berhala.
Demikian
yang dapat saya sampaikan, semoga keimanan kita selalu terjaga oleh Allah SWT.
Amiin Yaa Rabbal Aalamiin. Mohon maaf atas segala kekurangannya, terima kasih
atas segala kekurangannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
terima kasih
BalasHapus